Penjelasan Lengkap Sholat Witir Yang Musti Diketahui


Like Tulisan

Yuk Bantu Like Tulisan Ini

Penjelasan Lengkap Sholat Witir Yang Musti Diketahui -

Sholat witir cukup dikenal oleh ummat Islam. Karena sholat sunnat ini sering dikerjakan menyambung sholat tarawih di bulan Ramadhan. Hanya saja jangan sampai dipahami bahwa sholat witir hanya berlaku di bulan Ramadhan.


Menurut bahasa, witir berarti Al ‘Adad Al Fardi (bilangan ganjil), contohnya 1, 3, 5, 7, dst. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/289).

Seperti hadits berikut yang menyebut kata ganjil.

لِلهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اسْمًا مِائَةٌ إِلَّا وَاحِدًا لَا يَحْفَظُهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَهُوَ وَتْرٌ يُحِبُّ الْوَتْرَ

Allah memiliki 99 nama, seratus dikurang satu. Tidak ada yang menghafalnya melainkan dia akan masuk surga. Dia adalah witir (ganjil), menyukai yang ganjil. (HR. Al Bukhari No. 6410, Muslim No. 2677)

Sedangkan menurut syariat, Shalat Witir adalah:

وهي صلاة تفعل ما بين صلاة العشاء وطلوع الفجر ، تختم بها صلاة الليل ، سميت بذلك لأنها تصلى وترا ، ركعة واحدة ، أو ثلاثا ، أو أكثر ، ولا يجوز جعلها شفعا

Dia adalah shalat yang dikerjakan antara shalat Isya dan terbitnya fajar, dengannya shalat malam ditutup. Dinamakan witir karena shalatnya dlakukan secara witir (ganjil), 1 rakaat, atau tiga, atau lebih, dan tidak boleh menjadikannya genap. (Al Mausu’ah, 27/289)



Hukum Sholat Witir

Sayyid Sabiq menerangkan dalam kitab Fiqh Sunnah:

الوتر سنة مؤكدة حث عليه الرسول صلى الله عليه وسلم ورغب فيه

Shalat witir adalah sunnah muakadah, Rasulullah saw sangat menganjurkannya dan begitu menyukainya. (Fiqhus Sunnah, 1/191)

Imam Abu Hanifah mewajibkannya, namun tidak ada ulama yang setuju dengan pendapat beliau. Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menceritakan:

وما ذهب إليه أبو حنيفة من وجوب الوتر فمذهب ضعيف. قال ابن المنذر: لا أعلم أحدا وافق أبا حنيفة في هذا.

Apa yang menjadi pendapat Abu Hanifah bahwa witir adalah wajib merupakan pendapat yang lemah. Ibnul Mundzir berkata: “Tidak aku ketahui seorang pun yang sepakat dengan Abu Hanifah dalam hal ini.” (Ibid, 1/192)

Dengan sanad yang shahih, Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu berkata:

الْوَتْرُ لَيْسَ بِحَتْمٍ مِثْلَ الصَّلَاةِ وَلَكِنَّهُ سُنَّةٌ سَنَّهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

Witir bukanlah kewajiban seperti shalat wajib, tetapi itu adalah sunnah yang dibiasakan oleh Rasulullah ﷺ. (HR. At Tirmidzi No. 453, Musnad Ahmad No. 652, 786, 1220)




Jumlah Rakaat SHolat Witir



Sesuai namanya, maka jumlah rakat dalam sholat witir harus ganjil. Bahkan 1 rakaat pun boleh. Maksimal, 13 rakaat.

Dari Abu Ayyub Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ

"Witir adalah sebuah hak atas setiap muslim, barang siapa yang hendak melakukan witir lima raka'at maka hendaknya ia melakukankannya dan barang siapa yang hendak melakukan witir tiga raka'at maka hendaknya ia melakukannya, dan barang siapa yang hendak melakukan witir satu raka'at maka hendaknya ia melakukannya." (HR. Abu Daud No. 1420, An Nasa’i No. 1712, Ibnu Hibban No. 2407. Dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth, Syaikh Al Albani, Syaikh Ayman Shalih Sya’ban, dll)

Berkata Ibnu Abi Malikah:

قيل لابن عباس: هل لك في أمير المؤمنين معاوية، فإنه ما أوتر إلا بواحدة؟ قال: أصاب، إنه فقيه.

“Dikatakan kepada Ibnu Abbas: Apa pendapat anda tentang Amirul Mu’minin Muawiyah, bahwa dia tidaklah melakukan witir melainkan satu rakaat? “ Ibnu Abbas menjawab: “Dia benar, dia adalah seorang yang faqih (faham agama).” (HR. Bukhari No. 3554)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

....وَلَكِنْ أَوْتِرُوا بِخَمْسٍ أَوْ بِسَبْعٍ أَوْ بِتِسْعٍ ، أَوْ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ

... Tetapi berwitirlah dengan lima rakaat, atau tujuh, atau sembilan, atau sebelas, atau lebih dari itu. (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 5011, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1137. Imam Ibnu Mulaqin berkata: “Para perawinya terpercaya semuanya. Imam Al Hakim mengatakan: shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim.” Lihat Badrul Munir, 4/302)

'Aisyah Radhiallahu ‘Anha berkata:

...وَلاَ بِأَكْثَرَ مِنْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ

... Dan Nabi tidak pernah shalat witir lebih banyak dari 13 rakaat. (HR. Abu Daud No. 1364. Imam Ibnul Mulaqin mengatakan: shahih. Lihat Badrul Munir, 4/302)

Ummu Salamah Radhiallahu ‘Anha berkata:

كان النبي صلى الله عليه و سلم يوتر بثلاث عشرة ركعة  فلما كبر وضعف أوتر بسبع

Dahulu Nabi saw shalat witir sebanyak 13 rakaat, ketika sudah tua dan lemah beliau witir tujuh rakaat. (HR. At Tirmidzi No. 457, Beliau berkata: hasan. Imam Al Hakim mengatakan: shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim. Al Mustadrak No. 1149)

Para ulama mazhab Syafi'i dan Hambali berpendapat maksimal 11 rakaat. Pendapat lain dalam Mazhab Syafi'i maksimal 13 rakaat.

Mazhab Hanafi berpendapat hanya 3 rakaat saja, tidak lebih dan tidak kurang. Sedangkan mazhab Maliki mengatakan hanya satu rakaat saja. (Al Mausu’ah, 27/294)

 


Tata Cara Sholat Witir



Untuk sholat witir yang dilakukan lebih dari satu rokaat, maka terdapat salam setiap dua rokaat.

Dari 'Aisyah r.ha.:


كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى فِى الْحُجْرَةِ وَأَنَا فِى الْبَيْتِ فَيَفْصِلُ بَيْنَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ بِتَسْلِيمٍ يُسْمِعُنَاهُ.

“Rasulullah ﷺ  shalat di dalam kamar ketika saya berada di rumah dan beliau ﷺ  memisah antara raka’at yang genap dengan yang witir (ganjil) dengan salam yang beliau ﷺ   perdengarkan kepada kami.” (HR. Ahmad No. 24539,  Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari Nafi’, ia berkata mengenai shalat witir dari Ibnu ‘Umar:

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يُسَلِّمُ بَيْنَ الرَّكْعَةِ وَالرَّكْعَتَيْنِ فِى الْوِتْرِ ، حَتَّى يَأْمُرَ بِبَعْضِ حَاجَتِهِ

Ibnu Umar biasa mengucapkan salam ketika satu rakaat dan dua rakaat saat witir sampai ia memerintah untuk sebagian hajatnya.” (HR. Bukhari no. 991).

Cara lain, langsung sampai selesai dengan sekali duduk tasyahud dan sekali salam.

Dari Abu Ayyub Al Anshari, ia berkata, Rasulullah ﷺ   bersabda,
وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ

“Siapa yang suka lakukan witir tiga rakaat, maka lakukanlah.”  (HR. Abu Daud No. 1420, An Nasa’i No. 1712, Ibnu Hibban No. 2407. Dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth, Syaikh Al Albani, Syaikh Ayman Shalih Sya’ban, dll)

Dari ‘Aisyah, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُوتِرُ بِثَلاَثٍ لاَ يَقْعُدُ إِلاَّ فِى آخِرِهِنَّ.

“Rasulullah saw biasa berwitir tiga raka’at sekaligus, beliau tidak duduk (tasyahud) kecuali pada raka’at terakhir.” (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 4998. Imam Al Hakim mengatakan: shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim. Lihat Badrul Munir, 4/308)

Bahkan Rasulullah ﷺ pernah lima rakaat dengan sekali duduk di akhirnya. (HR. Ibnu Hibban No. 2439, shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Juga pernah tujuh rakaat dengan sekali duduk di akhirnya. (HR. An Nasa’i No. 1718, sanadnya shahih)

Atau bisa juga dengan pola 4-3 (2 rakaat, 2 rakaat, lalu 3), pola 6-3 (2,2,2,3), pola 8-3 (2,2,2,2,3), atau 10-3 (2,2,2,2,2,3).

Hal ini berdasarkan hadits:

كَانَ يُوتِرُ بِأَرْبَعٍ وَثَلاَثٍ وَسِتٍّ وَثَلاَثٍ وَثَمَانٍ وَثَلاَثٍ وَعَشْرٍ وَثَلاَثٍ

Dahulu nabi berwitir dengan 4 dan 3, 6 dan 3, 8 dan 3, serta 10 dan 3. (HR. Abu Daud No. 1364, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

Demikian informasi mengenai Penjelasan Lengkap Sholat Witir Yang Musti Diketahui. Semoga dapat bermanfaat untuk anda baik itu Penjelasan Lengkap Sholat Witir Yang Musti Diketahui

About Me   Disclaimer   Contact Us   Privacy Policy  
@2015 Bersiap BLog