Mengenal Teroris Botak Ashin Wirathu Sang Pembantai

pembantai

Konten dari Artikel ini :

    Biksu Buddha Burma, Ashin Wirathu semakin dikecam di jejaring sosial Indonesia menyusul tudingan terhadap dirinya sebagai dalam pembantaian Muslim Rohingya.
    Dia dinilai tidak mengamalkan ajaran  Budha yang penuh kasih saying dan cinta damai. Justru dipraktikkan adalah mendorong kekerasan terhadap Muslim yang menjadi minoritas di Myanmar.

    Akibat tindakannya itu, ratusan Muslim tewas dibantai dan ratusan ribu mengungsi, termasuk ke Indonesia. Biksu Ashin Wirathu dilabeli sebagai “The Face of Buddhist Terror” sebagaimana ditulis majalah Time.

    Tindakan Biksu Ashin Wirathu tak lain sebagai gerakan pembalasan  atas penghancuran patung Buddha Bumiyan di Afganistan oleh Taliban atau gerakan 969.Gerakan ini telah berkembang luas di Myamar. Sentimen anti-Muslim pun menyebar sejak beberapa tahun lalu. Muslim dibantai dan diusir dari negara itu atas perintah Bisku Ashin Wirathu.

    Catatan hitam Wirathu mencuat sejak tahun 2001, saat ia menghasut kaum Budha untuk membenci muslim. Hasilnya, kerusuhan anti-Muslim pecah pada tahun 2003. Tak lama kemudian, ia mendekam di penjara akibat ulahnya. Namun, tujuh tahunkemudian ia dibebaskan tepatnya pada tahun 2010. Ia mendapat amnesti yang diberikan untuk ratusan tahanan politik, usai reformasi pascamiliter berkuasa.

    Sang Biksu Budha ini dengan bangga mengatakan kepada New York Times, "Saya bangga disebut Buddha radikal."

    Konflik sektarian di Myanmar bermula dari 2012 ketika warga muslim etnis Rohingya ditindas mayoritas warga Buddha di Negara Bagian Rakhine.

    Bulan lalu kekerasan terhadap warga muslim Rohingya kembali terjadi. Kali ini militer Myanmar memburu apa yang mereka sebut militan Islam di Rakhine dan mereka mendapat dukungan warga radikal Buddha.

    Pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama mengecam serangan umat Buddha kepada kaum muslim di Myanmar. Dia menyatakan membunuh atas nama agama itu tidak masuk akal. 

    Dalai Lama menyampaikan pernyataannya itu di Universitas Maryland dalam lawatannya ke Amerika Serikat, seperti dilansir kantorberita  Reuters, Rabu (8/5/2013). Dia menyebut konflik sektarian itu bersifat politis, bukan spiritual.

    "Membunuh atas nama agama itu tidak masuk akal, sangat menyedihkan. Sekarang umat Buddha pun terlibat kekerasan di Myanmar," ujarnya.

    Ashin Wirathu menyebarkan ajaran kebencian dalam setiap ceramahnya. Dia selalu menyasar komunitas Muslim, seringkali dia memojokkan Rohingya. Pria inilah yang memimpin demonstrasi yang mendesak orang-orang Rohingya direlokasi ke negara ketiga.

    Ashin juga mengkambinghitamkan kaum Muslim atas bentrokan yang terjadi. Dia terus mengulang alasan tak masuk akal soal tingkat reproduksi Muslim yang tinggi.

    Biksu itu mengklaim perempuan Buddhis dipaksa pindah agama. Dia memimpin kampanye yang mendesak Pemerintah Myanmar mengeluarkan peraturan yang melarang perempuan Buddhis menikah dengan pria beragama lain tanpa izin pemerintah.

    Dikutip dari sejumlah sumber, biksu Ashin Wirathu melakukan itu sebagai pembalasan atas penghancuran patung Buddha Bamiyan di Afganistan. Aksi pembalasannya itu dinamai gerakan 969.

    PBB sempat geram kepadanya setelah ia melontarkan makian kepada seorang utusan PBB dengan menyebutnya sebagai 'pelacur' dan 'wanita jalang'. Pejabat hak asasi manusia PBB, Zeid Ra'ad Al Hussein pun mendesak pemerintah Myanmar mengecam keras biksu Ashin Wirathu.

    Saat ini, ada lebih dari 1.000 pengungsi Rohingya yang terusir dari rumahnya di Myanmar dan kini mengungsi di Aceh dan Sumatera Utara. Kondisi muslim Rohingya saat ini sangat memprihatinkan.

    Namun, sayangnya pemerintah Myanmar tidak sanggup berbuat banyak atas kekerasan yang terjadi pada warganya itu. Setelah hampir setengah abad dikuasai militer, kini Myanmar dipimpin oleh warga sipil. Namun, bentrokan antar agama memperlambat reformasi negara itu.

    Sebagian orang percaya, Ashin diterima pemerintah kareana dia menyuarakan pendapat soal pandangan-pandangan populer, misalnya soal Rohingya. Ashin seolah menjadi corong pemerintah yang tidak bisa menyuarakan keinginannya sendiri karena alasan diplomatik.

    Kaum perempuan Myanmar adalah satu-satunya kelompok yang konsisten menentang pandangan Ashin Wirathu. "Dia memberi reputasi buruk untuk negara kita. Dia menodai jubah biksu yang dia gunakan," kata Sekretaris Jenderal Liga Perempuan Burma, Tin Tin Nyo.

    Dia juga mengatakan, kampanye Ashin Wirathu yang mengusulkan peraturan yang membatasi perempuan menikahi pemeluk agama lain, bukanlah bentuk perlindungan perempuan melainkan bentuk kontrol atas perempuan.

    "Perempuan dapat memutuskan sendiri siapa yang ingin dia nikahi. Perempuan dapat memilih sendiri agama yang ingin dianut," kata Tin Tin Nyo.

    Demikian informasi mengenai Mengenal Teroris Botak Ashin Wirathu Sang Pembantai. Semoga dapat bermanfaat untuk anda baik itu Mengenal Teroris Botak Ashin Wirathu Sang Pembantai

    Sosial Media : Fanpage Belajar Islam Twitter Bersiap Twitter Client

    DMCA.com Protection Status

    About Me   Disclaimer   Contact Us   Privacy Policy  
    @2015 Bersiap BLog